Categories
Sound

Soundscape: Bunyi di Zona Terlarang

Bunyi sebagai medium arsip, tidak hanya mampu menjadi pembacaan pada konteks antropologis, melainkan juga secara spesifik membicarakan hubungan dengan lingkungan alaminya. Mirip dengan istilah landscape (pemandangan), soundscape kemudian dipakai untuk menampilkan materi-materi ekologis secara auditif. Menariknya, semua materi di semesta yang bergerak, menghasilkan bunyi. Sebagian besar tidak dapat diindra oleh manusia.

Saya ingat, saya sedang berada di pesisir pantai teluk Palu. Ramai sekali waktu itu, selain karena lokasi sepanjang pantai memang dikhususkan untuk pusat rekreasi masyarakat, juga ada gelaran ulang tahun Kota Palu tepat diujung teluk. Bunyi itu lalu terdengar. Keras sekali, mendentum dari bawah tanah, disusul getaran kuat yang membuat pemandangan air laut seperti sedang badai. Berombak tidak karuan. Beberapa saat kemudian, tsunami datang. Ditempat lain, yang merupakan kompleks perumahan nasional, terjadi mega-likuefaksi yang menenggelamkan sebagian besar wilayah ke dalam tanah.

Bernie Krause dalam tulisannya “The Anatomy of Soundscape” membagi bunyi berdasarkan sumbernya kedalam tiga kategori; Geophony (bunyi yang tidak bilogis), Biophony (bunyi yang biologis), dan Antropophony (bunyi antropologis). Dalam proyek seni ini, saya ingin membicarakan isu politik wilayah, hubungannya dengan mitigasi bencana di Palu, Sulawesi Tengah, menggunakan pendekatan soundscape.

Ingatan kolektif tentang bagaimana wilayah-wilayah itu sebelumnya, dan dokumentasi yang memperlihatkan kondisi wilayah ketika sedang terjadi bencana, lalu bunyi-bunyi yang akan saya hadirkan dari keadaan sekarang, menjadi tiga situasi yang berbeda di indera pendengar, memberitahukan kita bagaimana alam bisa dengan mudah dapat berubah kembali ke kondisi alaminya.

Aktivitas merekam yang saya lakukan menggunakan metode soundwalk & field recording dengan pendekatan soundscapepada lokasi-lokasi spesifik di Palu yang merupakan tiga wilayah zona terlarang:

(1) Pantai Talise, merupakan wilayah zona rawan tsunami, lokasi ramai pengunjung, tempat rekreasi dan berjualan. Rencananya akan dibangun tanggul sepanjang 7 KM dengan inggi 3 meter di sepanjang wilayah teluk Palu

(2) Kelurahan Balaroa, merupakan zona sangat rawan likuefaksi. Kondisi saat ini adalah puing-puing bekas bangunan yang menyatu dengan gundukan tanah, genangan sumber mata air, dan ekosistem tumbuhan rawa.

(3) Kelurahan Petobo, zona sangat rawan likuefaksi. Kebanyakan puing bangunan telah dibersihkan, saat ini didominasi oleh lanskap gundukan tanah, ekosistem gulma, genangan sumber mata air dan ekosistem tumbuhan rawa.